Penyapihan
Definisi
Penyapihan
adalah suatu proses berhentinya masa menyusui secara berangsur-angsur atau
sekaligus. Proses tersebut dapat disebabkan oleh berhentinya sang anak dari
menyusu pada ibunya atau bisa juga berhentinya sang ibu untuk menyusui anaknya
atau bisa juga keduanya dengan berbagai alasan (http://www.bascommetro.com, 2010).
Menyapih
adalah proses bertahap yaitu mula-mula dengan mengurangi frekuensi pemberian
ASI, sampai dengan berhentinya proses pemberian ASI (Nugroho, Taufan, 2011 ;
79). Departeman Kesehatan Republik Indonesia (1995) menyatakan
bahwa penyapihan adalah pengurangan frekuensi pemberian ASI secara bertahap
yaitu 3-4 kali sehari menjadi 2 kali sehari selanjutnya 1 kali sehari. Di mana
menyapih harus bertahap karena anak perlu waktu untuk peralihan rasa makanan
(manis dan gurih) dan bentuk makanan cair ke padat.
2.1.2 Cara-cara
menyapih yang benar
- 1. Lakukan proses menyapih ini secara berlahan.
- 2. Alihkan perhatian anak dengan melakukan hal lain. Bernyanyilah dan bermain bersama, sehingga anak tidak ingat saatnya menyusu pada mama.
- Komunikasikan hal lain dengan anak. Jangan takut anak-anak tidak mengerti dengan keinginan anda untuk menyapihnya.
- 4. Jangan menyapih anak ketika tidak sehat, atau sedang merasa sedih, kesal atau marah. Karena akan membuat anak anda merasa anda tidak menyayangin dirinya.
- 5. Hindari menyapih anak dari menyusui ke pacifier(empeng) atau botol susu. Mintalah bantuan ayah untuk melengkapi komunikasi dengan anak dan sebagai figure pendamping ibu.
- 6. Jangan menyapih secara mendadak dan langsung, hal itu akan membuat perasaan anak anda terguncang.
- 7. Jangan menipu anak anda dengan cara mengoleskan jamu di putting saat menyusui atau apapun yang membuat pearasan tidak nyaman. Pemaksaan seperti itu membuat hubungan batin anak dan ibu rusak (Nugroho, 2011 ; 79).
2.1.3
Hal-Hal Yang Dilarang Dalam Menyapih
- 1. Mengoleskan obat merah pada puting
- 2 Memberi perban atau plester pada puting
Cara
ini lebih menyakitkan buat anak. Jika diberi obat merah, anak masih mau
menyentuh puting ibunya. Tetapi kalau sudah diperban atau diplester, anak akan
belajar bahwa puting ibunya adalah sesuatu yang tak bisa dijangkau.
- 3. Dioles jamu,brotowali, atau kopi supaya pahit
Awalnya
mungkin anak tak akan menikmati, tetapi lama-kelamaan anak bisa menikmatinya
dan malah bergantung pada rasa pahit tersebut. Karena ia belajar, meskipun
pahit tetapi masih tetap bercampur dengan puting ibunya. Dampaknya, anak akan
mengembangkan sikap ambivalen, dalam arti ia tidak mengetahui apakah ibunya
mencintainya atau tidak. Bunda masih memberikan ASI, tapi tidak seperti
biasanya, jadi pahit. Parahnya lagi kepribadian ambivalen bukan kepribadian
yang menyenangkan. Anak akan mengembangkan kecemasan dalam interpersonal
nantinya.
- 4. Menitipkan anak ditempat kakek neneknya
Kehilangan
ASI sudah cukup menyakitkan, apalagi ditambah kehilangan figur ibunya. Anak
kecil belum memiliki kemampuan adaptasi yang baik. Jadi, dapat dibayangkan
kondisi seperti ini bisa menyebabkan guncangan jiwa anak, sehingga tak menutup
kemungkinan anak merasa ditinggalkan.
Tentunya hal itu tak mudah bagi anak karena ada dua stressor (sumber stres)
yang dihadapinya, yakni ditinggalkan dan harus beradaptasi. Jadi jangan kaget,
jika setelahnya anak pun butuh penyesuaian lagi terhadap ibunya. Malah akan
timbul ketidakpercayaan anak terhadap ibu.
- 5. Selalu Mengalihkan Perhatian Anak Setiap Menginginkan ASI
Meski
masih batita, si kecil tetap bisa merasakan penolakan ibu yang selalu
mengalihkan perhatiannya saat ia menginginkannya ASI kondisi ini juga membuat
anak belajar berambivalensi. Misal, ibu selalu mengajak anak bermain setiap
kali minta ASI. Tentu anak akan bertanya-tanya,” Bunda sayang aku enggak sih,
kok aku enggak dikasih ASI? Tetapi kalau tidak sayang kok masih ngajak aku
main?”
- 6. Selalu Bersikap Cuek Setiap Anak Menginginkankan ASI Anak jadi bingung dan bertanya-tanya, mengapa dirinya diperlakukan seperti itu. Dampaknya, anak bisa merasa tak disayang, merasa ditolak, sehingga padanya berkembanglah rasa rendah diri (Nugroho, 2011 ; 81).






0 comments:
Post a Comment